Rabu, Maret 07, 2012

Amarah dan Sekotak Permen




Berburu rindu
Tak kenal waktu
Kota yang tak ku suka
mencipta bulir-bulir kenangan 
Membuat ketagihan

"Aku datang (lagi) sayang" ucapku
berharap sekotak permen membakar birahiku, lalu birahimu

Dini hari, kau datang menyuguhkan suara dengkuran
Menyenangkan
Menenangkan

Sengaja tak ku pejamkan mata
Mengamati lelapmu
Lalu menciummu secara diam-diam
Itu caraku

sang surya mengintip perlahan
Kau terbangun karena sentuhan
Aneh! Kau panik
Hingga..
Sekotak permen yang membuat basah
Kau kantongi
hahaha.. Mungkin kau kira korek api

"Aku mau pulang yang.." ucapmu
Masih ingat itu? Aaahhh.. Coba ingatlah berkali kali ! Mungkin tersimpan di bibir, bukan di hati.

"Apa kau ke sini lagi nanti?" Tanyaku 
"Pasti" jawabmu yakin

Namun kau tak datang hingga kini

Tahukah kau aku cemas akan keadaanmu malam (kedua) itu?
Mengintip di balkon hingga larut malam adalah cara konyol
Ini wujud kegilaanku saat teknologi tak mampu mendeteksi keberadaanmu

Lagi-lagi rindu, namun tak kuasa berucap
Sekotak permen menjadi alasan
Pertanyaanku yang bertubi-tubi membuat kau gerah, lalu jengah
amarahmu terbaca amarahku

Kau pikir aku merindu permen itu?
Tentu saja tidak
aku mau kamu
Kau tak tahu maksudku

Kau tahu betapa mahal untuk menikmati setitik kecupanmu ?
Aku tak mengeluh..
Tentunya tak lebih murah dari sekotak permen di kantongmu

Yang ku harap, bukan amarah dan Sekotak permen yang datang secara ajaib di depan pintu Namun kecupan di keningku untuk membunuh rindu.

(Untuk hatimu, yang telah dimiliki gadis itu. akupun tahu, tanpa berharap memilikimu)


Samarinda, 28 februari 2012 
Dini hari yang sunyi

Minggu, Januari 29, 2012

Tak Mengikat

Hilir mudik para tongkat
Menatap lekat
Ada yang mendekat
Bahkan menghujat
Tak pandai kusimpan rapat

Salahkah kujadikan kau yang ke empat ?
Hahaha.. Memang tak biasa aku bejat
Hilang taat
Namun bersambung syariat
Aaahh.. Birahi sesaat

Jilat !
Aaaaawww ternyata kau hebat
Kau lulus jadi bangsat

Ingat !
Aku tak mengikat
Karena kau bukan mayat.

pulang

Aaaaaahhhhhh...!!!!
Aku pulang
Rindu halaman kosong
Dua tahun aku penuh bahkan muntah
Nyaris lupa akan manisnya kosong
Akan ku kosongkan kosongku

Selasa, Januari 26, 2010

Duka, Murka dan Cinta

Ribuan kata merangkak masuk
Menuju tengkuk manusia mabuk
Membusuk...

Para laknat tetap berhianat
Walau sahabat enggan berjabat
Kalimat lahir bagai malaikat

Mencaci kini suci
Degup jantung kian terkurung
Teriakanku sungguh keras
Hingga terdengar tak selaras

Putaran tangis tanpa air mata menyita banyak tawa
Kini malam membelakangi senja
Ku kantongi duka, murka dan cinta
Yang entah harus dibuang ke mana

Jumat, Januari 15, 2010

Entah

Entah apa perasaanku saat ini
Yang pasti hanya entah
Entah seolah tak bernyawa
Entah masih entah
Atau entah melulu entah
Entah dimana
Entah bersamanya
Entah bersama entah
Yg pasti bukan kau sang maha entah
Entahlah
Aku menunggu hingga entah tak lagi entah

Sabtu, Desember 12, 2009

Mimpi

Mimpi menjelma mimpi
Mimpi melulu mimpi
Saat kau temukan belahan mimpi
Saat itulah aku kehilangan ribuan mimpi
Hanya mimpi..

Jumat, November 27, 2009

Tanpa Bicara

Kebebasan mengobrak abrik rasa
Aku bangga
Menjadi yang tertunda
Bergulingan mimpi yg telah terikat erat olehmu kasih
Dapatkah kau menatapku lagi?
Mencuriku lagi?
Tidaaakk !
Tak ku ijinkan kau menyentuh walau hanya dindingku
Bahasaku tak kau tau
Tanpa bicara ku terbaring saat teriknya malam
Sungguh menyilaukan

Sabtu, November 21, 2009

Kau menangis

Aku berjalan gontai dengan tubuh lemas usai persalinan
Tanpa ku ketuk pintu kau pun menyambutku dengan sangar
Ku muluskan cara ku dengan bicara pada sang kakak
Namun tak ada perubahan
Ku bawa bayi laki-lakiku ke pangkuanmu
Hebat!
Kau mengangis!
Serasa bercermin kah kau?

Mimpi sang malam

Saat malam impikanmu
Jujur ku tak bahagia
Hanya ada resah
Firasat apa ?
Apa kau dapat mengingatku lagi?
Ataukah kau sungguh melupakanku?
Aaah.. Andai..
Andai kau tetap disisiku seperti dulu
Kan ku tanya kau sebelum terlelap
Sayup ku dengar alunan sendu
Hanyut dalam simfoni hitam
Aah.. Andai.. Andai malam tak impikanmu
Aku pasti lupa akan parasmu
Tanpa harus memberimu air mata lagi

Jumat, Oktober 30, 2009

Bungkam

Senyap mendadak gelap
Kiblatku hilang
Namun siluet mu terus terlihat
Aku enggan mencipta dingin,
Serta takut menjamu siksa rindu
cambuk hiruk pikuk meliuk suka cita
Saat peluh membanjiri wajah
tangan itu tak henti bertepuk
Perasaanku bungkam walau tak pernah diam

Selasa, Oktober 27, 2009

paras tampan itu tertunduk lesu
menggigit ujung kuku-kukunya yang rapuh
sinar lilin menerpa wajahnya dari samping
terlihat sempurna

Jumat, Agustus 07, 2009

Burung merak

entah...
entah kenapa ku gundah
saat sang burung merak terbang
mencari tenang
ku berduka

dulu..
degup jantungnya mungkin perih
saat dengan lantang menyemburkan suara
yang dapat melekat dalam hati siapa saja

masihkah ia berkarya dalam barzah?
ku menangis mencari jawabnya

meski aku..
menatapnya pun tak pernah
namun ia menjadi guru sejak lama
dan selamanya

Sabtu, Agustus 01, 2009

+ & -

- tunggu

+ mau apa lagi?

- aku mau hemm.. aku mau kamu

+ kenapa harus aku?

- karena aku mau.. aku mau kamu sayang

+ psstt...! jangan panggil aku sayang

- kenapa?

+ nanti juga kau akan tau jawabanku

- jadi ?

+ apanya yang jadi?

- ah ! maksudku lalu ?

+ ya.. kau benar, aku akan segera berlalu

- terus ?

+ ya.. aku akan terus melanjutkan hidup tanpamu

- tapi aku tidak mau hidup sendiri

+ kau tak kan hidup sendiri, bukankah kau pernah bilang bahwa seribu macam lelaki bisa kau dapat?

- hmm... aku...

+ maaf, aku tak bisa

- kenapa ?

+ karena cinta ...

- jadi kau sebenarnya cinta kepadaku

+ bukan, karena cinta... kita tak lagi sama

Tetap Ada

ah !
percuma jasadmu tinggalkan aku
bayang itu akan selalu bersamaku
bersama anganku
entah mengapa aku tak dapat lupa
tentang segala yang pernah kita coba
walau hanya kosong

sempat terpikir tuk mengulang semua
bersama jiwa dan jasad berbeda
namun aku tak kuasa
bayangmu tetap ada

kau sungguh berbeda

Rabu, Juli 15, 2009

tiba-tiba...
kurasa bibirmu ada di antara jari kakiku
aku ingin bangkit tuk menghindar
namun aku urungkan
jeritanmu tak ku dengar

seperti melihat kotoran anjing
seketika aku mual dan muntah
saat melihat kepingan hianat yang tertempel rapi di mulutmu

hingar bingar musik membuyarkan lamunanku
dan seluruh mataku kini sadar
akan gemerlap lampu kota
yang mulai tertutup kabut angan

redup..