sudut mataku seketika menjadi aliran sungai yang mengalir lamban
mendamba kau bercermin disana
namun kau acuh
melirikpun kau tak mau
bisik lirih tuk meyakinkan
kau anggap gurauan
perjalananmu dan perjalananku tak sama
kita berbeda
kau berbalik arah
tanpa ragaku
menuju bahagia yang nyata
sementara
air sungai mengalir penuh liku
bermuara pada hati yang memar dan penuh nanah di dalam tubuhku
tubuh yang terbujur kaku
karena tingkah laku
Rabu, Maret 18, 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar