ruangku berserakan dan berdebu
aku bangkit menyusuri pintu tua
meraba daun pintu tak bernyawa
lalu membukanya
kuputuskan untuk mengambil kursi reyot
yang selalu menemani
saat aku melahirkan bayi bayi inspirasi
ku letakkan tepat di depan pintu
aku duduk terpaku
menatap jalan buntu
mengantar senja
pulang ke kandangnya
angin dingin menyayat batin
beribu ragu turut mengganggu
akan datangkah lelakiku?
setelah sekian lama pergi
meninggalkan sekarung biji janji
kan ku nanti
hingga pagi
tanpa bermimpi
Senin, April 20, 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar