belalai panjang
kembali menghujam
batin yang suram
tertutup kelambu abu
merasakan manisnya madu
keluar di sela-sela kedua kakimu
rembesan luka
menjalar menuju mata indah kita
bertahta tanpa istana
tak ada senandung pertengkaran
yang selalu aku tanam
sejenak bumi berhenti dari putaran waktu
mengintip desahan dari dinding kamar kostmu
menyaksikan
kau menyelimuti tubuhku dengan peluk hangatmu
semua bagian dari tubuh kita
beradu sempurna
memulai perhelatan
tradisi orang tua
sesaat sebelum kita tercipta.
Selasa, April 21, 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


1 komentar:
hmm... ak suka tuh puisi
benar2 jujur apa adanya
Posting Komentar